Model Pembelajaran ARCS di Kelas

(Atttention, Relevance, Confidence, and Satisfaction)

Model pembelajaran ARCS ini dirancang oleh M. Keller (1983), dengan berdasarkan pada teori-teori motivasi. Menurutnya, seorang pendidik perlu memberikan motivasi kepada peserta didiknya, agar mereka mau belajar. Karena, munculnya motivasi belajar dalam diri peserta didik, bukan hanya menjadi tanggung jawabnya sendiri, tetapi juga menjadi tanggung jawab pendidik dan lembaganya.

Jika peserta didik tidak melakukan yang seharusnya seperti yang dilakukan oleh teman-temannya, perlu ditemukenali apa penyebabnya. Ada kemungkinan dia tidak mampu, malas, lapar, sakit, malu, benci, sibuk mengerjakan tugas yang lain, ada masalah dengan keluarga, atau temanya, dan sebagainya. Dengan motivasi, diharapakan peserta didik memiliki usaha untuk membangun kondisinya, sehingga dia memiliki keinginan, minat, dan bersedia melalukan sesuatu.

Mc.Clelland, Maslow, Wand, dan Brown, mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang. Motivasi sebagai proses psikologis timbul sebagai akibat faktor dari dalam diri seseorang itu sendiri, yang disebut faktor instrinsik. Sedangkan sesuatu yang datang dari luar diri seseorang disebut dengan faktor ekstrinsik.

Dalam proses pembelajaran di kelas, motivasi menjadi hal yang sangat penting. Motivasi menjadi kondisi yang esensial dalam pembelajaran, “motivation is an essential condition of learning”. Sehingga, hasil belajar peserta didik sangat ditentukan oleh motivasi yang dimilikinya. Semakin besar motivasi dalam diri peserta didik, makin besar pula hasil belajar yang akan dicapai. Demikian pula, semakin tepat motivasi yang diberikan oleh pendidik, semakin baik pula hasil dari proses pembelajaran. Motivasi dapat menentukan intensitas usaha peserta didik dalam melakukan sesuatu, termasuk melakukan belajar.

Salah satu upaya seorang pendidik untuk memotivasi peserta didiknya dalam proses pembelajaran, agar potensi-potensi (potencies) yang dimilikinya mempunyai korelasi positif dengan prestasinya (achievement), maka prinsip-prinsip motivasional model ARCS ini perlu dicobakan dan dipraktikkan oleh pendidik dalam proses pembelajaran di sekolah. Model ARCS ini selengkapnya dijelaskan berikut ini.

Attention (Perhatian)

Dalam model perhatian (attention), seorang pendidik harus mampu membangkitkan atensi atau perhatian peserta didiknya, agar mereka termotivasi untuk memiliki rasa ingin tahu. Jadi, rasa ingin tahu mereka harus dirangsang. Kepada mereka diajukan pertanyaan-pertanyaan reflektif, seperti, “mengapa saya harus mempelajari bab ini?”. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, diharapkan perhatian mereka akan selalu terpelihara selama proses pembelajaran berlangsung dan terus bertahan selamanya. Perhatian mereka terus dirangsang dengan cara-cara aktual, unik, atau cara yang sudah ada selama ini.

Strategi untuk merangsang perhatian peserta didik, antara lain:
menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi (ceramah, diskusi, bermain peran, simulasi, curah ide, demonstrasi, ekplorasi, studi kasus, dsb.)
menggunakan media belajar untuk melengkapi penyampaian bahan kajian (transparansi, slide, film, video, tape, dsb.)
menggunakan humor dalam proses pembelajaran.
menggunakan bukti nyata untuk memperjelas konsep yang ditanamkan.
menggunakan teknik bertanya untuk melibatkan siswa aktif.

Relevance (Hubungan/Kegunaan)

Dalam model hubungan/kegunaan (relevance), seorang pendidik harus mampu menjelaskan peserta didiknya, bahwa materi pelajaran yang sedang dibelajarkan sangat memiliki manfaat (kegunaan) secara langsung. Kata relevance menunjukkan adanya hubungan materi yang dipelajari dengan kebutuhan peserta didik hari ini dan kemudian. Ketika mereka mengetahui bahwa apa yang dipelajari itu memenuhi kebutuhan pribadinya, bermanfaat serta sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya selama ini, mereka akan termotivasi untuk belajar, berpikir, bersikap, melakukan sesuatu yang terbaik, dan seterusnya.

Strategi untuk menjelaskan hubungan dan kegunaan suatu materi pelajaran bagi peserta didik, antara lain:
sampaikan kepada peserta didik apa yang dapat mereka peroleh dan lakukan setelah mempelajari materi pelajaran tersebut.
Jelaskan manfaat/kegunaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta nilai-nilai yang akan dipelajari, dan bagaimana hal-hal tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan masa depan nanti.
Berikan contoh, latihan, atau tes yang langsung berhubungan dengan kondisi peserta didik atau profesi tertentu.

Confidence (Kepercayaan Diri)

Dalam model kepercayaan diri (confidence), seorang pendidik harus mampu menghilangkan kekhawatiran dan rasa ketidakmampuan dalam diri peserta didiknya. Harus ditanamkan rasa percaya diri kepada mereka bahwa mereka mampu dan bias berhasil dalam mempelajari sesuatu. Dalam diri mereka perlu dibangkitkan harapan positif untuk berhasil. Ketika mereka merasa dirinya kompeten dan mampu untuk berhasil, hal ini merupakan potensi mereka untuk dapat berinteraksi secara positif dan proaktif dengan lingkungan belajarnya.

Strategi untuk menanamkan kepercayaan diri peserta didik dengan lingkungannya, antara lain:
meningkatkan harapan peserta didik untuk berhasil, dengan memperbanyak pengalaman keberhasilan mereka.
menyusun pembelajaran ke dalam bagian-bagian yang lebih spesifik, sehingga mereka tidak dituntut untuk mempelajari terlalu banyak konsep baru.
meningkatkan harapan peserta didik untuk berhasil dengan menyatakan persyaratan untuk berhasil.
meningkatkan harapan peserta didik untuk sukses dengan menggunakan strategi kontrol, karena keberhasilan terletak pada diri mereka sendiri.
menumbuhkan kepercayaan diri peserta didik dengan mengatakan, “nampaknya kalian telah memahami konsep yang saya ajarkan dengan baik.” Kemudian katakan kelemahan mereka sebagai “hal yang masih perlu diperbaiki”.
memberikan umpan balik yang konstruktif selama proses pembelajaran berlangsung.

Satisfaction (Kepuasan)

Dalam model kepuasan (satisfaction), seorang pendidik harus mampu menghadirkan rasa puas dalam diri peserta didiknya. Motivasi pendidik harus mampu mewujudkan kepuasan peserta didik untuk mendukung (support) tumbuhnya keinginan mereka untuk tetap belajar. Kepuasan dalam belajar (joyful learning) akan menghasilkan kesuksesan belajar (successful learning), dan juga sebaliknya, kesuksesan belajar dapat mengakibatkan kepuasan dalam belajar. Keberhasilan dalam mencapai suatu tujuan akan menghasilkan kepuasan.

Untuk mempertahankan motivasi ini, seorang pendidik dapat memberikan penguatan (reinforcement), berupa pujian, pemberian kesempatan untuk presentasi, dan jika dimungkinkan, mereka diberikan hadiah, pin bintang, piagam, sertifikat, dst.

Strategi untuk mewujudkan kepuasan peserta didik, antara lain:
menggunakan pujian secara verbal.
Memberikan umpan balik yang informatif, bukan intimidasi.
Memberikan kesempatan kepada mereka mempraktikkan pengetahuan yang baru dipelajarinya.
Meminta mereka yang sudah menguasai materi pelajaran membantu teman-temannya yang belum menguasai.

Simpulan

Dengan mencobakan dan mempraktikkan motivasi belajar model ARCS tersebut, diharapkan para pendidik di SMP Islam PB. Soedirman, Cijantung Jakarta Timur, mampu menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), yang dapat menumbuhkan, mengembangkan, dan menjaga motivasi peserta didik dalam proses pembelajarannya. Tujuan utama dari model ini adalah agar proses pembelajaran dapat mencapai hasil yang optimal, efektif, efisien, dan sesuai dengan apa yang diharapakan para stakeholder pendidikan. (Afa.)

Sumber Bacaan:

Angkowo, R. (2007). Optimalisasi Media Pembelajaran, Jakarta: PT. Grasindo.

Makmun, Abin Syamsudin. (2001). Psikologi Kependidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. (2000). Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar, Jakarta: Bumi. Angkasa.

Sardiman, AM. (2001). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo. Persada.

Syah, Muhibbin. (2001). Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Tilaar, H.A.R. (2000). Manajemen Pendidikan Nasional, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ditulis Oleh 
Oleh: Nur Alam